Home / Digital Life / Media sosial dan Aplikasi Chat yang Rentan Punah

Media sosial dan Aplikasi Chat yang Rentan Punah

Tidak semua media sosial dan aplikasi chat yang ada di Indonesia berhasil bertahan. Tidak sedikit developer yang menutup aplikasinya setelah sempat berjaya di masa lalu. Faktor minat publik dan pengembangan juga punya andil.

media sosial dan aplikasi chat
stocksnap.io

Banyaknya media sosial dan aplikasi chat yang mulai mengalami kepunahan disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain fitur yang tidak update, banyaknya bug di dalamnya, masalah keamanan hingga minimnya dana untuk mengembangkan aplikasi. Bila terus merugi, pihak pengembang akan dibuat pusing sehingga mereka pasrah dan perlahan-lahan menghentikan kelangsungan hidup produk buatannya.

Salah satu contoh situs jejaring sosial yang telah punah dari dunia maya adalah Friendster. Siapapun yang besar di era 2000an tentu paham sepak terjang “bapaknya” situs pertemenan di Indonesia ini. Friendster adalah situs jejaring sosial yang berfungsi untuk berkomunikasi antar pribadi dan berbagi konten.

Dahulu, situs ini (Friendster-red.) kerap dimanfaatkan sebagai sarana berkencan serta mendapatkan informasi terkait acara-acara yang akan digelar. Layanan web ini sangat populer di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang menempati peringkat ke-2.

Namun pada Mei 2011, Friendster memutuskan menghapus seluruh akun sosial media penggunanya. Situs yang menjadi legenda dan digandrungi remaja pada masanya kini telah tiada untuk selamanya.

Itulah contoh satu di antara banyak media sosial dan aplikasi chat yang hanya tinggal kenangan. Sekarang, apakah anda penasaran media sosial dan aplikasi chat yang berada di wilayah rentan menuju kepunahan di Indonesia? Ini dia beberapa diantaranya:

KakaoTalk
KakaoTalk adalah satu dari sederetan media sosial pertama di era smartphone Indonesia. Aplikasi besutan Korea ini sempat ditahbiskan sebagai startup terbaik pada masa keemasannya. Bahkan disebut-sebut, bahwa Indonesia adalah negara dengan pengguna aplikasi KakaoTalk terbanyak kedua di dunia, setelah Korea Selatan.

Ironisnya, tren drama Korea yang diusung sudah tidak laku bagi masyarakat Indonesia. Hal ini berdampak pada merosotnya pengguna aplikasi KakaoTalk. Akhirnya di tahun 2015, KakaoTalk resmi menutup akun Facebook dan Twitter mereka.

Blackberry Messenger (BBM)
Aplikasi ini merupakan instant messenger yang pada awalnya hanya tersedia di handphone Blackberry. Dimana, penggunanya dapat mengirim konten, bercerita, mengirim rekaman dll dan cukup populer di kalangan remaja Indonesia.

Seiring kepopuleran BBM, perangkat lain seperti Android dan iPhone mulai dimasuki aplikasi tersebut. Hal ini menyebabkanvalue dari BBM yang terkesan premium mulai memudar. Aplikasi yang bertambah berat dan memakan RAM cukup besar membuat orang mulai risih hingga pada akhirnya melakukan uninstall terhadap aplikasi BBM.

Path
Aplikasi pesaing Facebook ini sempat digandrungi kalangan anak muda di awal 2013. Anda dapat meng-update mengenai kegiatan yang sedang dilakukan, upload foto, mendengarkan musik dan masih banyak lagi. Namun saat ini penggunanya terus menurun dan berada di ambang kepunahan. Penyebabnya tidak lain adalah beratnya aplikasi ketika dibuka dan memakan memory space cukup besar. Selain itu minimnya fitur terkini membuat penggunanya beralih.

Myspace
Siapapun yang memiliki grup band atau menyukai dunia musik underground tentu tidak asing mendengar nama situs ini. Myspace adalah salah satu media sosial dengan jaringan terbesar pada masa kejayaannya. Pengguna kerap memanfaatkan media ini sebagai sarana promosi karya musik yang telah mereka ciptakan supaya dapat didengar orang di seluruh dunia. Kemunculan Facebook mengusik eksistensi Myspace hingga peminatnya semakin sepi.

WeChat
Media sosial ini adalah hasil garapan negeri tirai bambu, China. Persaingan WeChat dengan dua media sosial lain seperti KakaoTalk dan Line, cukup sengit pada masa itu. Sempat menjadi booming di tanah air, sebelum akhirnya WeChat ditinggalkan penggunanya. Penyebab kejatuhannya diyakini sebagai dampak dari bertambahnya fitur secara berlebihan.

Snapchat
Kelangsungan hidup aplikasi Snapchat tinggal menunggu waktu saja sepertinya. Jumlah penggunanya menurun drastis sejak fitur story hadir di Instagram. Terlebih lagi ukuran aplikasi yang memakan memori dan RAM sangat besar. Para penggunanya sudah bermigrasi ke media sosial lain.**GP

Check Also

bisnis di instagram

Mau Berbisnis di Instagram? Coba Alternatif Berikut

Menjalankan bisnis di Instagram, bisakah diterapkan? Tepat sekali. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di era …