Home / Digital Life / Media Online dan Jalan Alternatif Menolak Usang

Media Online dan Jalan Alternatif Menolak Usang

Gonjang-ganjing industri media memang tak penah habis. Setelah tergesernya media cetak oleh media online, akhirnya media berbasis internet inipun tak lepas dari cepatnya perubahan. Dan peliknya, justru cepatnya perubahan dan pergerakan tren media internet  ternyata juga berdampak negatif bagi media online itu  sendiri.

media online male indonesia
pixabay.com

Adalah New York Times  yang mengungkap tentang kerugian para pemain di media online berbasis berita. Ketidakberhasilan meraup iklan yang dilepas media cetak untuk bergeser ke media online adalah faktor utama yang mencuat. Ekspetasi pendapatan berdasarkan advertising base yang ditargetkan tidak tercapai. Dan vonis bahwa media online memasuki senjakala pun menjadi horor bagi industri ini. Bahkan Google dan Facebook yang mulai mendominasi di ranah ad placement akhirnya juga kena tudingan sebagai salah satu biang keladi sepinyan iklan di media online.

Tapi perlu juga diingat, bahwa banjirnya informasi lewat media online membuat publik justru kehilangan kepercayaan, apalagi dengan bercampur baurnya banyak kepentingan pihak-pihak tertentu membuat media online hanya berfungsi sebagai alat yang membuat pengunjung website sulit membedakan mana yang benar dan yang tidak benar, mana yang layak dibaca, mana yang tidak. Dan akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya.

Di indonesia memang keberadaan media online masih dibilang justru sedang menujui masa puncak. Agresifitas para pelaku industri media justru sedang hangat-hangatnya menyusul bertumbangannya media cetak. Tapi memang banyak bermunculannya media online dalam bentuk portal maupun blog, dibarengi juga dengan mereka yang terengah-engah menghidupinya. Bayangan bahwa dengan bermain di area online dapat menghasilkan keuntungan ternyata tidak dirasakan merata. Pembiayaan pun juga tergolong tinggi.

Tak bisa dimungkiri, jatah kue iklan di media online Indonesia masih didominasi oleh para pemain utama yang sudah sejak lama bermain dan yang tentunya juga jor-joran berinvestasi. Kemampuan merenggut jatah iklan seiring dengan kemampuan mengarahkan opini publik. Tak ayal, para pemain baru dengan investasi yang jauh berbeda dibanding para pemain utama, yang terlanjur percaya dengan keunggulan media berbasis internet ini pun seperti menemukan tembok besar yang sulit ditembus, dan akhirnya mati.

Apakah benar media online sudah menjadi barang usang? Kunci dari itu semua adalah bagaimana memonetasi produk dan menemukan business model yang tepat sejak awal. Jalan alternatif menghasilkan pundi-pundi bagi media online tergolong masih banyak yang belum atau masih jarang dijalankan oleh pelaku industri ini di tanah air bahkan di dunia sekalipun. Ketergantungan pada pendapatan kue iklan akan menjadi bumerang mematikan.

Langkah Alternatif Media Online
Berikut beberapa hal yang patut jadi perhatian dan cara memonetasi media online yang bisa dibilang sebagai jalan alternatif agar keberlangsungannya dapat terjaga:

  • Lupakan pendapatan utama atau mayor melalui sisi periklanan. Jadikan target pendapat dari iklan maksimal 15% dari seluruh rencana penghasilan. Itupun dapat diserahkan pada Adnetwork seperti Adesense, Infolinks, chitika, contextual ads, adcash, dan banyak lagi, yang bisa diiringi juga dengan direct selling, baik melaui personal networking  maupun advertising agency.
  • Berlakukan produk media online yang ada sebagai bagian dari brand besar. Sehingga business setting yang dibuat adalah membesarkan brand, bukan sekadar berputar-putar pada produk media online itu sendiri.
  • Ciptakan produk digital dengan konten khas lalu hasilkanlah produk-produk seperti e-book, e-magazine dan lainnya yang dapat dijual terpisah dengan memanfaatkan pasar dari pengunjung web.
  • Buatlah konten video yang berpotensi dilihat secara massal, lalu bermitralah dengan Youtube agar mendapatkan revenue dari video viewer, dan semua ini sangat mungkin dilakukan dengan adanya dukungan media sosial.
  • Gunakan popularitas web dalam menghasilkan pendapatan melalui artikel bersponsor. Beberapa kalangan juga mulai memainkan native ad sebagai gaya baru dalam beriklan di media online. Dimana sebuah artikel yang ditampilkan sebenaranya adalah pesanan dari pemasang iklan, tapi diolah dalam bentuk artikel yang diharapkan pembaca tidak merasakan adanya kandungan selling di dalamnya.
  • Coba perhitungkan, apakah website yang sudah diterbitkan juga berpotensi memuat konten-konten istimewa maupun khusus sehingga dapat dibuat sebagai konten premium? Jika ya, maka dapatlah memanfaatkan Premium Content Access sebagi pendapatan
  • Pernahkah anda membayangkan bahwa wikipedia dapat terus hidup hingga saat ini dengan akses gratis bagi pengunjungnya? Ya, dengan membuka donasi sebuah media online juga dapat terus hidup. Biasanya hal ini banyak dilakukan oleh penyedia konten gratis yang tetap menjaga kualitas seperti penyedia free stock photo, free music download, free tutorial dan tentunya gerakan-gerakan kemanusiaan.
  • Ini yang juga masih jarang dilakukan oleh pegiat media online di tanah air: Webinar (Web Base Seminar). Satu bentuk penyelenggaraan event secara online yang biasanya dilakukan untuk mengetengahkan seminar, tutorial, daily practice dan lainnya. Semuanya dilakukan secara online termasuk pendaftarannya. (baca juga: Teknologi Webinar, Tak Terhalang Jarak)
  • Tentu selain event yang dilakukan secara online, penyelenggaraan event secara offline adalah satu kegiatan yang sangat potensial menghasilkan pundi-pundi. Dengan melakukan sistem pembayaran bagi peserta event maupun pencarian sponsor, hal ini dapat menjadi pendaringan yang membuahkan hasil signifikan..
  • Media online anda berpotensi mengumpulkan komunitas? Selain menghimpun mereka dalam satu kesukaan yang sama, buatlah online private forum dengan sistem berlangganan dengan penawaran benefit bagi peserta forum seperti: keberadaan narasumber yang kredibel untuk berdiskusi mengenai hal tertentu, penyediaan tools khusus bagi peserta forum yang tak ada di tempat lain, penyediaan info-info khusus dan ekslusif, newsletter yang memuat segala perkembangan terkini dari bidang yang diminati.
  • Hasilkanlah konten-konten digital yang berpotensi untuk dapat ditawarkan kepada pihak-pihak lain penyedia konten, sehingga terjalin kerjasama saling menghasilkan. Video, foto, audio atau bahkan teks, dapat menjadi perbendaharaan konten yang dapat disebarkan melalui kerjasama komersil dengan pihak lain.

Hal-hal yang telah disebutkan hanyalah sebagian kecil dari banyak solusi untuk mendapatkan hasil nyata dalam menjalankan media online. Masih banyak kegiatan-kegiatan bisnis yang dapat menghasilkan uang dari keberadaan media online. Ketakutan-ketakutan akan adanya status usang bagi media jenis ini tak perlu lagi menjadi momok yang terus membuat pelakunya tak berkutik. Tinggalkan gaya lama dalam berbisnis media, dan temukanlah jalan-jalan baru yang sangat terbuka untuk diciptakan.**MIND

Check Also

media sosial dan aplikasi chat

Media sosial dan Aplikasi Chat yang Rentan Punah

Tidak semua media sosial dan aplikasi chat yang ada di Indonesia berhasil bertahan. Tidak sedikit developer yang …